Buku laila seribu malam tanpamu karya canda malik

Pengemis di persimpangan jalan ini, jangan-jangan dia seorang waliullah.
Pengamen yang mengetuk kaca mobil demi meminta receh itu siapa tahu penjelmaan Malaikat Mikail yang membagi rezeki. Gelandangan yang dicibir orang kaya itu siapa tahu Nabi Khidir a.s. yang sedang menyamar. Dan, anak-anak jalanan ini siapa tahu ahli-ahli surga yang merayu Allah agar mengizinkan kita memasuki taman terindah di akhirat. Sementara aku, diriku ini, siapa tahu bukan siapa-siapa sehingga tidak layak bangga kepada diri sendiri, apalagi sombong kepada orang lain.
Gayamu
Jangan bergerak!
“Mau sajadah? Aku punya yang baru.”
“Maksudmu, sajadah yang lama buat aku? Sialan.”

Cinta itu rahasia Allah yang sangat rahasia. Kita tidak pernah benar-benar tahu mengapa kita jatuh cinta. Tidak ada yang salah dari jatuh cinta dan tidak ada yang benar dari jatuh rindu.
“Dari Al-Hakim, Khatib, Ibnu Asakir, dan Ad Dailami, Rasulullah Saw.
bersabda, ‘Barang siapa yang jatuh cinta, kemudian tetap menjaga kesuciannya, dan menyembunyikan rasa cintanya, lalu mati maka dia syahid.’” “Serius, Abah? Mati menahan rasa cinta sederajat dengan syahid?”
“Jika perang melawan diri sendiri disebut lebih besar daripada Perang Badar, apakah Lail masih meragukan sabda Rasulullah tentang mati syahid karena menahan rasa cinta ini?”
“Masya Allah, tidak, Abah. Lail tidak meragukan.”
“Dalam sebuah Hadis Qudsi,” lanjut Abah Suradira, “Allah menyebut bahwa diri-Nya pun dalam persembunyian. ‘Kuntu kanzan makhfiyan, fa ahbabtu ‘an uraf fa khalaqtu al-khalqa li-kay ‘uraf.’ Aku adalah Khazanah Tersembunyi. Aku cinta untuk dikenal maka Aku ciptakan makhluk agar mengenali-Ku,” kutip Abah Suradira.
Pendek kata, persembunyian dan cinta adalah satu dan lain hal yang ditakdirkan menyatu; dan ciptaan menjadi luapan perasaan cinta itu. Tidak heran jika kemudian seseorang yang jatuh cinta menjadi peka rasa dan keranjingan mencipta. Kata-kata indah yang mengungkapkan kabar gembira dan sedih, berhamburan dari pena penyair, misalnya.
“Tentu tidak bisa disamakan dengan kalam dan qalam Allah, tapi Abah mengerti mengapa orang yang jatuh cinta tiba-tiba menjadi penyair,” ujarnya, seraya tersenyum.

Umbu
“Kau harus berhati-hati dalam berkarya. Setiap karya adalah perwujudan dari penciptanya,”

Bapak lail
“Bukan cari pusaka, Le. Pusaka tidak bisa dicari, tapi ditemukan. Ilmu kebatinan juga begitu. Jika kamu kejar, dia akan lari. Jika kamu diamkan, dia tidak akan mendekat. Tapi, jika kamu tirakat untuk menyambut kehadirannya maka ilmu itu akan melekat dalam dirimu sebagai daya pengolah jiwa.”
Bapak melanjutkan penjelasannya yang sedari tadi terputus.
Beliau berkata, kita memohon kenikmatan di dalam shalat. Kemudian, kita memohon kebahagiaan sesudah shalat. Dan, sepasang doa itu disampaikan, kita terlebih dahulu harus berikrar bahwa hanya kepada Allah-lah kita menyembah.

Mengetahui apa yang disukai seorang kekasih memang penting.
Mengetahui yang tidak disukai seorang kekasih, itu lebih penting. Sebab, yang tak disukai olehnya itu dekat dengan kemarahan. Dan, kemarahannya itu dekat dengan kemurkaan. Inilah prinsip dasar seorang pencinta yang kuperoleh siang itu dalam masa penantian sowan kepada Ra Lilur.

“Satu lagi. Ini adalah doa keluarga kita, keluarga Bapak dari Jember.
Mulai pagi ini Bapak wasiatkan kepada Lail untuk diamalkan, terutama dalam keadaan yang memaksa.”
“Saya mendengarkan.”
“Hiruplah napas panjang, lalu tahanlah. Selama menahan napas itu, istigfar sebanyak-banyaknya sampai Lail tak kuat lagi menahan napas. Nah, ketika pertahananmu sudah hampir sampai ambang batas, berdoalah sebelum Lail mengembuskan napas. Setelah itu, barulah bernapas seperti sedia kala,” ungkap Bapak, mengijazahkan ilmu keluarga kepadaku.
“Lail terima dengan segala kerendahan hati dan rasa terima kasih, Pak,” ucapku.
Ijazah ini, meskipun sederhana, telah mengajariku banyak hal luar biasa.
Dari menarik napas, aku belajar bahwa aku harus bersungguh-sungguh berikhtiar untuk menyerap rezeki dari Allah. Dari menahan napas, aku belajar bahwa rezeki dari Allah itulah yang menjadi perantara bagiku dalam berharap bisa bertahan hidup di dunia. Artinya, aku harus bisa bersabar dan bersyukur.
Dari beristigfar selama menahan napas, aku belajar bahwa bersabar dan bersyukur saja ternyata tidak cukup. Selalu ada kemungkinan kita berbuat salah atas rezeki itu. Dan, sebanyak-banyak harta yang kita keruk, toh, tidak pernah cukup untuk bertahan hidup selamanya di dunia. Segala sesuatu memiliki batas, terutama napas kita yang kelak menghadapi embusan napas terakhir: ajal.
Sementara dari berdoa di penghujung batas penghabisan napas, aku belajar bahwa Allah masih menganugerahi kita peluang pamungkas untuk memohon kepada-Nya ketika tenggat telah tiba. Selalu ada kesempatan untuk khusnul khatimah, berakhir dengan baik. Lebih dari itu, ketika otak mulai kekurangan pasokan oksigen, tubuh mulai sedikit limbung. Karena tidak ingin keadaan memburuk, aku tentu saja tidak akan membiarkan pikiranku mengacau ke mana-mana, apalagi untuk menyusun permintaan yang bermacam-macam kepada Allah, seperti ketika berdoa dengan cara yang lazim. Doaku menjadi harus singkat, padat, tidak bersayap.

“Asal-usul dinamakan Al-Khadir atau Khidir, dalam Shahih Bukhari dijelaskan, bahwa Nabi Khidir a.s. suka duduk di atas pakaian dari bulu binatang yang berwarna putih. Jika bulu-bulu itu melambai-lambai tertiup angin, dari baliknya terlihat warna kehijauan atau khadira. Muhammad bin Said Ashbahany mengabarkan riwayat ini dari Ibnu Al Mubarak dari Mamar dari Hammam dari Munabbih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,” paparnya.
Abah Suradira menerangkan itu sambil mengajakku menengok kesibukan Bibi Tijah di dapur. Dia menunjukkan daun pisang yang digelar sebagai alas nasi tumpeng. “Itu, lihat. Warnanya hijau, ya. Paham, ya?” seru Abah Suradira. Kalau hanya untuk santap malam, alas nasi tumpeng itu boleh apa pun. Tapi, kalau untuk kenduri, apalagi untuk menyampaikan ajaran tasawuf dan ilmu kebatinan lainnya, daun pisang yang hijau pekat itu tak tergantikan.
Tampah bundar dari anyaman bambu, menurut Abah Suradira, melambangkan dunia dengan segala keterbatasannya. Segala yang di dalam tampah dapat dihitung dan diperhitungkan. Sedangkan segala yang di luar tampah tidak dapat dibatasi hitungannya karena memang di luar batas perhitungan manusia. “Yang di luar tampah itulah wilayah rezeki yang tak terduga,” ujar Abah. Terhadap yang di dalam tampah, kita bersyukur.
Terhadap yang di luar tampah, kita berserah.
Dia kemudian mengutip QS Ath-Thalaq [65]: 2-3, “...
wamayyataqillaaha waj’allahu makhrajan, wayarzuqhu min haitsuu laa yahtasib. Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberi jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Lalu, tentang nasi tumpeng yang mengerucut, Abah Suradira menjelaskan bahwa gunung nasi itu melambangkan perjalanan keilmuan.
Dasar ilmu adalah rasa ingin tahu, pendakiannya adalah rasa mengetahui atau mencari tahu, atau belajar, dan puncaknya adalah rasa tidak tahu.
“Mengapa harus pakai ayam ingkung, Bah?” tanyaku.
“Ayam ingkung itu melambangkan manekung atau berserah diri dalam menyembah Gusti Allah. Ingkung itu singkatan dari ingsun manekung.
Ayam yang kokoknya bahkan bisa menggagalkan pembangunan candi pada malam hari, akhirnya harus berserah pula kepada Yang Mahakuasa,” jelasnya.
Selebihnya, mengapa dalam sesajian kenduri juga terdapat bunga aneka rupa dan wewangian kemenyan serta dupa, menurut Abah Suradira, manfaatnya bukan untuk memanggil makhluk gaib. Namun, untuk mengajak manusia hadir. Sebab, hanya dengan hadir maka zikir dan pikir bisa menyatu. “Perlu suasana magis tertentu, Lail, untuk membuat pikiran dan perasaan kita terpusat pada apa yang dikerjakan,” ungkap Abah Suradira. Jadi, tidak ada yang sesat dari ajaran dan kearifan para leluhur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku seni beres beres dan metode merapikan ala jepang karya marie kondo

Buku amor fati [Stefani Bella] [Syahid Muhammad]